Author: Yulianti Muthmainnah
•Wednesday, January 06, 2010

Abstraksi

Sarana dan prasarana sekolah yang buruk, biaya pendidikan mahal, guru tidak berdisplin dalam mengajar, terbatasnya jumlah guru, kebijakan sekolah yang mewajibkan siswa-siswanya untuk membeli buku-buku pelajaran atau lembar kerja sekolah (LKS), privatisasi pendidikan, rendahnya gaji guru, sistem pendidikan yang seragam dan tidak mendewaskan peserta didik, serta bias gender turut menambah daftar panjang buruknya sistem pendidikan di Indonesia. Padahal sejatinya, pendidikan dapat menjadikan seorang mampu keberaksaraan, membebaskan dan memanusiakan manusia, dan berkeadilan gender. Selain itu, pendidikan juga seyogyanya berorientasi pada kemandirian ekonomi guna memutus rantai pemiskinan.

Di Indonesia, masyarakat miskin sangat mudah dijumpai. Bahkan, melihat wajah kemiskinan berarti melihat perempuan. Setengah dari penduduk negeri ini yang berkelamin perempuan, dua pertiganya masuk dalam kategori miskin. Memutus rantai pemiskinan, satu diantaranya dengan pendidikan. Karena kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan. Dan perempuan, sebagai bagian dari masyarakat yang juga miskin, sudah saatnya mendapatkan hak pendidikan alternatif perempuan yang mengintegrasikan pengembangan pemikiran kritis, kepemimpinan, dan keahlian hidup perempuan.

Untuk membaca lengkap, silahkan klik di sini.

This entry was posted on Wednesday, January 06, 2010 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

1 comments:

On May 28, 2011 at 10:38 PM , ayha said...

perlunya para pendidik untuk mendidik moral bangsa agar menjadi dasar pendidikan kita